UNFCCC

Peningkatan konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) yang meliputi CO2 , CH4, N2O, SF6 , HFC dan PFC sebagai akibat aktivitas manusia telah menyebabkan meningkatnya radiasi sinar UV yang terperangkap di atmosfer. Hal ini berkontribusi terhadap fenomena pemanasan global  (global warming)  yaitu meningkatnya suhu permukaan bumi. Pemanasan global mengakibatkan Perubahan Iklim yang berupa perubahan pada unsur-unsur iklim seperti naiknya suhu permukaan bumi, meningkatnya penguapan di udara, berubahnya pola curah hujan dan tekanan udara yang pada akhirnya mengubah pola iklim dunia.  Pemanasan global dan perubahan iklim terutama terjadi akibat aktivitas manusia seperti pemanfaatan bahan bakar fosil, kegiatan pertanian dan peternakan, dan konversi lahan yang tidak terkendali.

Issue  pemanasan global dan perubahan iklim dunia ditangani secara intensif dalam kerangka  United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Perubahan Iklim atau UNFCCC). UNFCCC adalah sebuah kesepakatan yang akhirnya diterima secara universal sebagai komitmen politik internasional tentang perubahan iklim pada KTT Bumi tentang Lingkungan dan Pembangunan (UN Conference on Environment and Development, UNCED) di Rio de Janeiro, Brasil, Juni 1992. Hingga saat ini jumlah anggota UNFCCC adalah 192 negara.

Konvensi ini terdiri dari 26 pasal dan 2 lampiran atau Annex. UNFCCC bertujuan untuk menstabilkan konsenterasi gas rumah kaca di lapisan udara pada pada tingkat yang tidak membahayakan system global, yaitu suhu dunia harus dibatasi 2 derajat celcius agar kehidupan di bumi tetap dapat berlanjut. Konvensi perubahan iklim mencantumkan prinsip-prinsip dasar, yaitu:

  1. Kesetaraan (equity), iklim global dan system iklim dimiliki secara adil dan setara oleh semua umat manusia, termasuk generasi mendatang
  2. Tanggung jawab bersama tapi berbeda (cammon but differentiated responsibilities), semua Negara pihak mempunyai tanggung jawab yang sama, namun dalam tingkat yang berbeda dalam hal target pengurangan emisi gas rumah kaca. Karena sampai sekarang sebagian besar emisi dihasilkan Negara industry dan mempunyai kemampuan paling besar untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, maka mereka harus mengambil porsi tanggung jawab paling besar dalam menangani perubahan iklim.
  3. Tindakan kehati-hatian (precautionary measure), apabila ada ancaman kerusakan yang serius, ketidakpastian ilmiah tidak boleh digunakan sebagai alasan untuk menunda tindakan pencegahan. Dunia tidak bias menunggu hasil kajian ilmiah yang mutlak tanpa melakukan sesuatu mencegah dampak pemanasan global lebih lanjut.
  4. Perkembangan berkelanjutan (sustainable development), meski prinsip berkelanjutan masih sering diperdebatkan, namun dapat digambarkan sebagai “pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka pula”. Semua hak dan kewajiban untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan.

UNFCCC berkekuatan hukum sejak 21 maret 1994 setelah diratifikasi 50 negara. Hingga agustus 2007 konfensi tersebut telah diratifikasi 195 negara dan masyarakat Uni Eropa. Negara-negara yang meratifikasi konvensi tersebut para pihak atau parties dan terikat secara hukum pada ketentuan dalam konvensi. Untuk menjalankan kegiatannya UNFCCC membentuk badan pengambilan keputusan tertinggi, yaitu pertemuan para pihak CoP (Conference of Parties) yang mengadakan pertemuan rutin setahun sekali, atau ketika dibutuhkan.

Konvensi menekankan kesetaraan dan kehatihatian (precautionary principle)  sebagai dasar semua kebijakan. Pada konvensi ini juga dikenal adanya common but differentiated responsibilitiesdimana setiap negara memiliki tanggung jawab yang sama namun dengan peran yang berbeda-beda, dalam upayanya menekan laju peningkatan emisi GRK di negerinya. CoP1 diadakan di Berlin, Jerman pada tahun 1995. Para pihak memutuskan bahwa komitmen Negara-negara maju yang bertujuan untuk mengembalikan emisi ke tingkat tahun 1990 menjelang tahun 2000 , sangat tidak memadai untuk mencapai tujuan jangka panjang konvensi untuk menghindari pengaruh manusia yang membahayakan system iklim bumi. CoP2 bertempat di Jenewa Swiss juli 1996 di pimpin oleh Chen Cimungtengwende dari Zimbabwe yang terpilih menjadi presiden CoP tersebut. Konferensi ini menghasilkan deklarasi jenewa berisi sepuluh deklarasi. Antara lain ajakan kepada semua pihak untuk mendukung pengembangan protocol dan instrumental legal lainnya yang didasarkan atas temuan ilmiah. deklarasi ini juga menginstruksikan kepada semua perwakilan para pihak mempercepat negosiasi terhadap teks protocol, yang secara hukum mengikat sehingga diadopsi pada CoP3.